Minggu, 10 Juni 2012

'Unyeng-Unyeng'

Konon, pada zaman dahulu orang tua menandai anaknya apakah akan susah diatur atau gampang diatur dari banyaknya "unyeng-unyeng" di kepala. Unyeng-unyeng itu istilah dalam bahasa Jawa untuk menyebut 'pusaran rambut' di kepala kita. Jika 'unyeng-unyeng'nya lebih dari satu maka tandanya anak tersebut akan susah diatur. Entah bagaimana jalan logikanya.Yang jelas jika 'unyeng-unyeng' lebih dari satu, rambut anak tersebut akan susah diatur potongannya.  Jika rambutnya saja susah diatur apalagi orang yang punya rambut. Begitulah barangkali logikanya.

Rio, begitulah dia dipanggil. Dari sosok tubuhnya yang tinggi besar, anak ini mudah dikenali. Lebih-lebih,dia akan mudah dikenali dari potongan rambutnya. Potongan rambutnya agak memanjang lebih panjang dibanding ukuran teman-temannya. Potongan ini sebenarnya tidak cocok dengan jenis rambutnya yang tebal, kaku dan kasar. Sehingga seolah-olah apa saja benda yang mengenai rambutnya akan menancap disitu. Pernah satu kali setelah libur panjang, Rio datang ke sekolah dengan model rambut bekas direbounding. Ah, ada-ada saja anak itu. Jelas itu membuat bentuk rambutnya makin gak karuan dan menjadi bahan pembicaraan temannya. Meski demikian seperti biasa Rio terkesan cuek.

Sudah tak terhitung kali Rio harus berurusan masalah rambut dengan wali kelas maupun bidang kesiswaan. Mulai dari cara paling ringan, diperingatkan, sampai dengan dicukur di sekolah oleh guru. Namun, ternyata perkara rambut ini memang tak mudah bagi dia. Setelah dicermati, jumlah 'unyeng-unyeng' di kepala Rio ternyata lebih dari satu. Woalah.. ini ternyata biangnya. Pantas saja segala model rambut seperti tak pernah cocok untuk kepalanya. Namun urusan dengan Rio tidak saja masalah rambut. Apakah ini berkaitan dengan jumlah unyeng-unyengnya yang banyak sehingga susah diatur, tentu tidak. Meski kebetulan jumlah unyeng-unyeng Rio lebih dari satu. Tak terhitung guru yang sudah menyatakan nyerah menghadapinya.

Rio sebenarnya atau seharusnya anak cerdas. IQ-nya 135. Pada saat masih sebagai siswa baru, dia bahkan pernah diikutkan untuk menjadi salah satu peserta OSN. Namun, kemalasannya belajar membuatnya tereliminasi dari tim OSN. Hampir setiap hari, entah bagaimana caranya  dia selalu membawa gitar ke sekolah. Pada saat jam istirahat, jeda pergantian jam atau jam kosong, alat musik inilah yang selalu dia mainkan. Dan dia seperti tenggelam dalam dunianya sendiri.

Pada awal-awal saya menjadi guru pelajaran ekonomi-akuntansi di kelas Rio, sayapun hampir nyerah menghadapinya. Anak ini hampir tak pernah bisa diam. Seringkali dia bertingkah iseng mengganggu teman-temanya. Atau dia akan mengeluarkan celetukan-celetukan sehingga temannya terpancing dan kelas menjadi ramai. Tentu hal ini tidak bisa dibiarkan karena sudah mengganggu. Karena saya tidak akan pernah memaksa siswa untuk belajar, maka sayapun mengultimatum agar yang  tidak mau belajar supaya diam atau tidur saja. Alhasil, selama sisa jam pelajaran saya, Rio tidur nyenyak di mejanya. Alamak.

Herannya, ketika ulangan, nilai Rio cukup tinggi. Namun, saya curiga ini bukan hasil fikiran dia sendiri namun bantuan dari teman-temannya ketika saya lengah mengawasi. Tak mau terkecoh sekali lagi, maka setiap ulangan berikutnya saya buat soal empat tipe, dan siswa diacak tempat duduknya.  Rio, sengaja saya tempatkan persis di depan meja saya. Dan dia tidak berkutik. Benar, hasil ulangannya jeblok. Berkali-kali seperti ini setiap ulangan. Rupanya, hal ini sedikit mempengaruhinya. Rio tak lagi terlalu berisik dan iseng. Meski juga tidak berubah menjadi rajin belajar.

Sayapun menjadi punya alasan untuk membicarakan hasil ulangannya ini. Namun, saya merasa anak ini menghindar dan tidak ingin membicarakannya. Alhasil, inipun tidak merubah apa-apa.

bersambung....




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar