Minggu, 17 April 2011

Kaidah Penulisan Soal Pilihan Ganda

Soal pilihan ganda sangat sering digunakan dalam ujian-ujian/evaluasi pendidikan di Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk menyegarkan kembali ingatan kita khususnya para guru tentang kaidah-kaidah dalam pembuatan soal pilihan ganda yang baik. Tulisan ini didasarkan pada kaidah penulisan soal pilihan ganda yang dikeluarkan oleh Deperteman Pendidikan Nasional melalui Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik).
Seperti halnya pembuatan instrument/soal apapun, prosedur pembuatan soal pilihan ganda didahului dengan pembuatan kisi-kisi soal. Prosedur ini sudah banyak dilakukan oleh madrasah-madrasah, dengan membuat tim pembuat kisi-kisi yang terpisah dengan tim pembuat soal. Berikut ini pembahasan mengenai kisi-kisi soal dan kaidah penulisan soal pilihan ganda.
a. Kisi-Kisi Soal
Kisi-kisi soal adalah panduan/pedoman agar soal yang dibuat tidak menyimpang dari tujuan pembuatan soal. Kisi-kisi yang baik harus memenuhi syarat-syarat berikut:
1. Mewakili isi kurikulum yang akan diujikan
2. Komponen-komponennya rinci, jelas dan mudah dipahami
3. Soal-soalnya dapat dibuat sesuai dengan indikitor dan bentuk soal yang ditetapkan
Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk menilai apakah kisi-kisi yang dibuat sudah baik adalah dengan melihat soal yang dihasilkan dari kisi-kisi tersebut. Kisi-kisi yang baik adalah jika lebih dari satu orang diminta membuat soal dari kisi-kisi yang sama, menghasilkan soal yang tidak jauh berbeda.

b. Kaidah Penulisan Soal
Menurut Deperteman Pendidikan Nasional melalui Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik), terdapat 16 kaidah penulisan soal pilihan ganda. Masing-masing kaidah tersebut dijelaskan berikut ini.
1. Soal harus sesuai dengan indikator
2. Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari materi
Contoh sederhana untuk menggambarkan pilihan jawaban yang tidak homogen dan logis ditinjau dari materi adalah pilihan jawaban berikut:
A.Actuating C. Coordinating E. Controling
B. Staffing D. Acting
Pilihan jawaban d. acting meskipun terkesan homogen tetapi tidak logis ditinjau dari materi.

3. Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau yang paling benar.

Dengan kaidah ini setiap soal pasti memiliki satu pilihan jawaban yang benar. Upaya pembuat soal untuk membuat pilihan jawaban pengecoh berfungsi tetap harus berpegang pada kaidah ini.

4. Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas.
Contoh soal yang kurang jelas dan tegas adalah sebagai berikut:
Agar lebih jelas pokok soal di atas dapat diubah menjadi:
Pada gambar kurva disamping kenaikan harga yang terjadi disebabkan oleh . . .

5. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja.

Contoh soal yang mengandung pernyataan yang tidak diperlukan adalah sebagai berikut.

Rani adalah seorang yang rajin menabung setiap hari dia menyisakan uang jajannya untuk ditabung, sehingga dia dapat menabung sebesar Rp. 800.000 dari total pendapatannya. Jika fungsi konsumsi Rani adalah C = 600.000+0,20Y, maka besarnya konsumsi Rani adalah ….
Pernyataan soal “Rani adalah seorang yang rajin menabung…” tidak diperlukan.

6. Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban benar.
Berikut ini adalah contoh soal yang mengandung petunjuk ke arah jawaban.
Bapak koperasi Indonesia dikenal juga sebagai salah seorang proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu:
A. Adam Malik C. Moh. Hatta E. Wijoyo Nitisastro
B. Sri Sultan HB IX D. Sutan Syahrir

Sebaiknya pernyataan tersebut ditiadakan karena member petunjuk pada jawaban yang benar.

7. Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda.
Contoh soal yang mengandung negatif ganda adalah sebagai berikut.

Pernyataan berikut ini bukan merupakan pendapat ekonom aliran klasik, kecuali…
8. Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama.

9. Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan, "Semua pilihan jawaban di atas salah", atau "Semua pilihan jawaban di atas benar".

10. Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka tersebut, atau kronologisnya.

11. Gambar, grafik, tabel, diagram, dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi.

12. Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya.
Contoh soal:
Diketahui data sebagai berikut (dalam milyaran rupiah):
GDP Rp. 23.000,00
Faktor netto luar negeri Rp. 3.500,00
Penyusutan Rp. 1.800,00
Pengganti barang modal Rp. 2.100,00
Pajak tak langsung Rp. 3.000,00

Soal no. 1. Berdasarkan data tersebut, besarnya GNP adalah…

Soal no. 2. Berdasarkan data tersebut, besarnya NNP adalah…

Jika soalnya seperti di atas, maka jawaban no 2 tergantung pada jawaban soal no.1, karena besarnya NNP tergantung pada besarnya GNP. Jika data hendak dipaksakan untuk dua nomor soal, maka jawaban benar soal nomor 2 harus dibuat independen dari jawaban benar soal nomor 1.

13. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
Misal dalam soal bidang study ekonomi, dalam menuliskan harga yaitu dengan menuliskan angka nol dua dibelakang koma, misal Rp. 10.000,00.

14. Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat, jika soal akan digunakan untuk daerah lain atau nasional.

15. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang komunikatif.
Dengan kaidah ini diharapkan setiap siswa yang membaca soal memiliki pemahaman yang sama tentang makna soal. Oleh karena itu perlu dihindari istilah-istilah asing/langka yang jarang digunakan dalam komunikasi. Selain itu, diharapkan menggunakan bahasa yang sesuai dengan target soal (siswa SD, SMP, atau SMA).

16. Pilihan jawaban jangan mengulang kata atau frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian.
Contoh soal:
Untuk menghitung indeks harga harus ditentukan tahun dasar. Tahun dasar adalah…
A. tahun yang dijadikan pembanding
B. tahun yang akan dihitung indeks harganya
C. tahun yang dianggap relatif stabil
D. tahun yang ditentukan batas waktunya

frase “tahun yang” dalam pilihan jawaban termasuk mengulang frase yang tidak satu kesatuan pengertian, sehingga harus dihilangkan.

Kemampuan membuat soal pilihan ganda merupakan kemampuan yang perlu dilatih dan dibiasakan. Semakin sering guru melatih kemampuannya dalam membuat soal pilihan ganda dengan memasukkan kaidah-kaidah tersebut, Insya Allah kemampuannya akan terasah. Lebih dari itu, kemampuan membuat soal harus ditunjang oleh penguasaan materi yang hendak diujikan. Tanpa penguasaan materi yang baik, sebaik apapun kaidahnya, secara content soal akan kurang baik.
Demikianlah pembahasan mengenai kaidah penulisan pilihan ganda, semoga bermanfaat.

3 komentar:

  1. apakah dalam penulisan soal PG,dibolehkan satu indikator untuk lebih dari satu soal? Atau harus satu soal, sat indikator....terima kasih....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dalam satu soal, satu saja indikator soalnya pak. Indikator soal mengacu pada indikator kompetensi.
      Terima kasih

      Hapus
  2. Kalau menurut saya satu indikator bisa 2 - 3 indikator soal. Tapi 1 indikator soal = 1 soal

    BalasHapus